🇮🇩 Senin, 20 Juli 2026 • Pukul 01.08.48 WIB • Selamat Malam, Indonesia! • Selamat Datang di Yosinauwae Blog Edukatif Sekolah Dasar ! 🚀 Hari Baru Semangat Baru mari kita semangat belajar bersama-sama untuk menyongsong hari yang cerah di masa depan . . . bersama Yosinauwae 🇮🇩 Senin, 20 Juli 2026 • Pukul 01.08.48 WIB • Selamat Malam, Indonesia! • Selamat Datang di Yosinauwae Blog Edukatif Sekolah Dasar ! 🚀 Hari Baru Semangat Baru mari kita semangat belajar bersama-sama untuk menyongsong hari yang cerah di masa depan . . . bersama Yosinauwae 🇮🇩 Senin, 20 Juli 2026 • Pukul 01.08.48 WIB • Selamat Malam, Indonesia! • Selamat Datang di Yosinauwae Blog Edukatif Sekolah Dasar ! 🚀 Hari Baru Semangat Baru mari kita semangat belajar bersama-sama untuk menyongsong hari yang cerah di masa depan . . . bersama Yosinauwae 🇮🇩 Senin, 20 Juli 2026 • Pukul 01.08.48 WIB • Selamat Malam, Indonesia! • Selamat Datang di Yosinauwae Blog Edukatif Sekolah Dasar ! 🚀 Hari Baru Semangat Baru mari kita semangat belajar bersama-sama untuk menyongsong hari yang cerah di masa depan . . . bersama Yosinauwae

Aku dan Temanku di Sekolah Dasar Kelas 3

Aku dan Temanku di Sekolah Dasar Kelas 3

Bab 1: Pendahuluan – Indahnya Persahabatan di Fase B Sekolah Dasar

Memasuki usia Sekolah Dasar (SD) Kelas 3, anak-anak berada pada fase transisi perkembangan sosio-emosional yang sangat krusial, yaitu Kurikulum Merdeka Fase B (kisaran usia 8 hingga 9 tahun). Pada tahap perkembangan ini, anak tidak lagi hanya berfokus pada dirinya sendiri (egosentris), tetapi mulai membuka diri secara intensif terhadap dunia luar, khususnya lingkungan teman sebaya (peer group). Pembelajaran mengenai materi "Aku dan Temanku" bukan sekadar subunit dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia atau Pendidikan Pancasila, melainkan fondasi utama dalam membina iklim belajar yang inklusif, kondusif, dan menyenangkan. Hubungan pertemanan yang sehat di kelas 3 memegang peranan kunci dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, serta ketrampilan sosial peserta didik yang berorientasi pada Profil Pelajar Pancasila.

Pentingnya memahami tema "Aku dan Temanku" terletak pada kesadaran bahwa sekolah adalah miniatur masyarakat. Aku senang sekali berteman. Kita semua pasti memiliki teman. Teman-teman kita akan membuat kita bahagia. Dengan berteman, kita dapat bermain bersama dengan gembira dan saling menolong. Ayo, kenali lebih dekat teman-teman kalian! Ketahuilah identitas dirinya, agar suasana kelas menjadi lebih menyenangkan. Melalui interaksi sehari-hari di dalam ruang kelas, anak-anak belajar mengenali keberagaman, mengasah empati, serta melatih kemampuan berkomunikasi secara efektif. Keterikatan emosional positif yang terjalin antar siswa di kelas 3 terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan motivasi belajar akademis, mengurangi risiko perundungan (bullying), serta membentuk memori persekolahan yang membahagiakan.

Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, pembelajaran berbasis aktivitas sosial menuntut pendidik untuk memfasilitasi anak agar aktif bereksplorasi. Anak-anak diajak untuk mengamati, menanyakan, dan menceritakan kembali siapa diri mereka serta bagaimana mereka berinteraksi dengan teman-temannya. Pengalaman belajar yang kontekstual ini akan memberikan pemahaman mendalam bahwa setiap individu adalah unik, bernilai, dan memiliki kelebihan serta kekurangan yang saling melengkapi satu sama lain. Ketika seorang anak merasa diterima oleh lingkungan teman sebayanya, ia akan terdorong untuk mengekspresikan gagasannya secara merdeka tanpa rasa takut akan penolakan.

Bab 2: Mengenal Identitas Diri dan Teman Sebaya secara Mendalam

Pengenalan identitas merupakan langkah awal yang fundamental dalam membangun persahabatan yang bermakna. Pada tingkat Kelas 3 SD, pemahaman tentang identitas tidak lagi sebatas menyebutkan nama panggilan dan alamat rumah semata, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas seperti kebiasaan, makanan favorit, hobi, bakat khusus, hingga latar belakang budaya keluarga. Ketika anak diajarkan untuk mengenali identitas dirinya sendiri secara utuh, mereka akan lebih mudah menghargai identitas orang lain. Proses identifikasi ini melatih kecerdasan intrapersonal dan interpersonal secara seimbang.

Konsep Utama Pembelajaran Identitas:

Mengenal identitas teman sebaya melatih keterampilan empati sosial, di mana anak tidak hanya melihat kawan dari penampilan fisik semata, melainkan memahami karakter, kesukaan, serta keunikan yang dimiliki oleh setiap individu di dalam kelas.

Untuk memfasilitasi pemahaman identitas ini, guru dan orang tua dapat menerapkan berbagai strategi interaktif. Salah satu metode yang sangat efektif adalah pembuatan "Peta Identitas Diri" atau *Identity Mind Map*. Dalam kegiatan ini, peserta didik diminta menggambar diri mereka di tengah kertas, kemudian membuat cabang-cabang yang berisi informasi spesifik seperti:

  • Identitas Dasar: Nama lengkap, nama panggilan, tanggal lahir, dan tempat tinggal.
  • Karakteristik Fisik dan Unik: Warna kesukaan, tinggi badan, jenis rambut, atau ciri khas yang membanggakan.
  • Minat dan Ketrampilan: Hobi di waktu luang, cita-cita, serta permainan favorit bersama teman.
  • Identitas Sosial dan Kebudayaan: Bahasa daerah yang dikuasai di rumah, makanan khas keluarga, serta tradisi unik yang sering dilakukan.

Setelah peta identitas selesai dibuat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi menceritakan diri (*Show and Tell*) di depan kelompok kecil. Proses saling mendengarkan cerita teman ini terbukti ampuh mencairkan suasana kelas. Peserta didik menemukan titik-titik kesamaan (misalnya hobi yang sama atau makanan favorit yang serupa) yang menjadi jembatan awal terbentuknya kelompok pertemanan baru yang suportif dan inklusif.

Bab 3: Kebinekaan dan Toleransi dalam Lingkungan Perkelasan

Ruang kelas 3 Sekolah Dasar umumnya diisi oleh anak-anak dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Perbedaan tersebut dapat meliputi perbedaan suku, agama, jenis kelamin, tingkat kemampuan ekonomi keluarga, hingga perbedaan kemampuan kognitif dan fisik. Kebinekaan ini harus dikelola dengan bijaksana agar tidak menjadi pemicu eksklusi sosial atau perundungan, melainkan dijadikan sebagai laboratorium nyata untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan Kebinekaan Global sesuai amanat Profil Pelajar Pancasila.

Sikap toleransi di kelas 3 dipupuk melalui pemahaman bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan kelemahan. Guru dapat merancang aktivitas pembelajaran tematik yang mengangkat tema keberagaman nusantara. Misalnya, diadakan hari "Festival Budaya Kelas 3" di mana setiap siswa diperbolehkan membawa makanan khas daerah masing-masing atau menceritakan permainan tradisional dari daerah asal orang tua mereka. Melalui pengalaman langsung ini, anak-anak belajar bahwa teman yang berbeda darinya memiliki keunikan budaya yang sangat menarik untuk dipelajari.

Dimensi Perbedaan Wujud Nyata di Kelas 3 Sikap Toleransi yang Dikembangkan
Keberagaman Fisik Perbedaan tinggi badan, warna kulit, dan jenis rambut. Menghargai penampilan teman tanpa mengejek atau memberi julukan negatif.
Keberagaman Budaya & Suku Perbedaan dialek bahasa daerah dan tradisi keluarga. Antusias mendengarkan cerita budaya teman dan mau belajar hal baru.
Keberagaman Kemampuan Perbedaan kecepatan memahami pelajaran atau ketangkasan olahraga. Saling membantu dalam belajar kelompok tanpa membeda-bedakan.
Keberagaman Minat Perbedaan hobi (membaca, menggambar, sepak bola, menari). Mendukung karya dan minat teman serta mencoba permainan baru bersama.

Pencegahan perundungan (anti-bullying) juga menjadi fokus utama dalam bab ini. Siswa kelas 3 diajarkan untuk mengenali bentuk-bentuk verbal bullying, seperti memanggil teman dengan nama orang tua, mengolok-olok kekurangan fisik, atau mengucilkan seorang teman dari permainan kelompok. Melalui teknik sosiodrama (role-playing), siswa diajak merasakan bagaimana menjadi pihak yang dikucilkan dan bagaimana perasaan ketika dibantu oleh seorang teman. Pembelajaran emosional ini membangun benteng empati yang kuat dalam jiwa anak.

Bab 4: Bermain Bersama dan Menumbuhkan Sikap Saling Menolong

Dunia anak adalah dunia bermain. Bagi siswa SD Kelas 3, bermain bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang, melainkan moda utama dalam belajar sosial. Melalui bermain bersama, anak-anak menegosiasikan aturan, belajar mengendalikan emosi, mengolah rasa kekalahan, serta merayakan kemenangan secara bersama-sama. Permainan kelompok seperti bentengan, gobak sodor, lompat tali, hingga permainan papan (*board games*) modern mengajarkan konsep kerja sama tim secara konkret.

Saling menolong dalam lingkungan pertemanan adalah cerminan dari elemen Gotong Royong dalam Profil Pelajar Pancasila. Di kelas 3, kebiasaan saling menolong dirancang secara terstruktur namun tetap alami. Contoh-contoh kecil perilaku saling menolong yang perlu dibiasakan antara lain:

  1. Meminjamkan Alat Tulis: Berbagi pensil atau penghapus kepada teman yang lupa membawanya tanpa meminta imbalan.
  2. Mendampingi Teman yang Kesulitan Belajar: Menjadi *peer tutor* atau tutor sebaya saat pengerjaan tugas kelompok di kelas.
  3. Menghibur Teman yang Sedih: Memberikan perhatian emosional saat ada teman yang terjatuh di lapangan sekolah atau sedang bersedih.
  4. Menjaga Kebersihan Bersama: Melaksanakan piket kelas bersama-sama sesuai jadwal dengan penuh tanggung jawab.

Ketika sikap saling menolong menjadi budaya yang mengakar di dalam kelas, iklim psikologis kelas akan berubah menjadi sangat aman dan nyaman. Anak-anak yang tadinya pemalu atau kurang percaya diri akan merasa terlindungi dan terdorong untuk lebih aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Bab 5: Komunikasi Efektif dan Bahasa Santun Antarteman

Persahabatan yang langgeng membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik. Anak usia kelas 3 SD berada pada tahap krusial dalam memperhalus kosa kata dan tata cara berinteraksi secara lisan maupun non-verbal. Salah satu materi utama dalam Kurikulum Merdeka adalah melatih siswa menggunakan "Empat Kata Ajaib" dalam kehidupan sehari-hari bersama teman-temannya.

Empat Kata Ajaib dalam Pertemanan:
  • "Tolong" – Diucapkan setiap kali meminta bantuan kepada teman, tanpa nada memerintah.
  • "Terima Kasih" – Diucapkan sebagai bentuk apresiasi setulus hati atas bantuan atau kebaikan teman.
  • "Maaf" – Diucapkan dengan jujur ketika melakukan kesalahan atau tidak sengaja menyakiti teman.
  • "Permisi" – Diucapkan saat hendak melintas di depan teman atau menyela pembicaraan secara sopan.

Selain penggunaan kata ajaib, komunikasi efektif juga mencakup keterampilan mendengarkan secara aktif (*active listening*). Siswa diajarkan untuk tidak memotong pembicaraan saat temannya sedang bercerita, menatap mata lawan bicara dengan ramah, serta memberikan respon yang relevan dan menghargai. Jika terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat saat bermain, siswa dilatih untuk menyelesaikan konflik secara damai melalui diskusi verbal (*conflict resolution*), bukan dengan kekerasan fisik maupun kata-kata kasar.

Bab 6: Peran Guru dan Orang Tua dalam Memfasilitasi Hubungan Sosial Anak

Keberhasilan pengembangan hubungan pertemanan anak di sekolah tidak terlepas dari kolaborasi sinergis antara guru di sekolah dan orang tua di rumah. Guru berperan sebagai fasilitator dan pengamat lingkungan sosial kelas, sedangkan orang tua berfungsi sebagai penyedia fondasi emosional dan tempat berkonsultasi bagi anak saat menghadapi dinamika pertemanan.

Di lingkungan sekolah, guru dapat merancang denah tempat duduk yang dinamis, di mana posisi duduk siswa dirotasi secara berkala. Hal ini bertujuan agar setiap siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat dengan seluruh teman di kelas, bukan hanya berkumpul dengan kelompok tertentu (geng). Guru juga perlu memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak introvert atau siswa yang menunjukkan indikasi menarik diri dari pergaulan, dengan cara memasangkan mereka dalam tugas berpasangan (*pair work*) dengan teman yang memiliki sifat ramah dan pengayom.

Di lingkungan rumah, orang tua disarankan untuk sering mengajak anak berdialog secara terbuka setelah pulang sekolah. Pertanyaan-pertanyaan pemantik seperti, "Siapa teman yang paling banyak mengobrol denganmu hari ini?" atau "Apakah ada temanmu yang membutuhkan bantuan hari ini?" dapat membuka ruang diskusi emosional yang sehat. Orang tua juga hendaknya menghindari sikap menghakimi teman anak dan sebaliknya mengajarkan cara-cara positif dalam mengelola kekecewaan jika terjadi konflik pertemanan.

Bab 7: Asesmen dan Evaluasi Perkembangan Sosio-Emosional Siswa

Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, evaluasi terhadap topik "Aku dan Temanku" tidak hanya diukur melalui tes tertulis (asesmen sumatif), melainkan berfokus pada asesmen formatif berkelanjutan berbasis observasi perilaku. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peserta didik telah menginternalisasi nilai-nilai pertemanan, kerja sama, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Instrumen asesmen yang dapat digunakan oleh guru meliputi lembar observasi sikap (*check-list* perilaku sosial), jurnal anekdot, serta penilaian antarteman (*peer-assessment*). Melalui penilaian antarteman yang dirancang secara sederhana dan menyenangkan, siswa diajak untuk memberikan apresiasi positif kepada rekan-rekannya. Contoh lembar penilaian antar teman sederhana dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Pernyataan Penilaian Diri & Teman Sering (3) Kadang-kadang (2) Belum Terlihat (1)
Saya menyapa teman dengan ramah saat bertemu di sekolah.
Saya mau bermain dengan siapa saja tanpa memilih-milih teman.
Saya mengucapkan kata "Tolong" dan "Terima Kasih" saat berinteraksi.
Saya bersedia membantu teman yang mengalami kesulitan belajar/bermain.

Hasil asesmen ini menjadi bahan refleksi bagi guru untuk merancang intervensi pembelajaran selanjutnya. Jika ditemukan siswa yang masih mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, guru dapat memberikan pendampingan secara personal atau melibatkan bimbingan konseling sekolah untuk menemukan akar permasalahan dan solusinya.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  • Q: Mengapa materi "Aku dan Temanku" sangat penting dalam Kurikulum Merdeka Kelas 3 SD?
    A: Materi ini sangat penting karena mendukung perkembangan sosio-emosional anak di Fase B. Selain mengasah keterampilan berbahasa lisan dan tulis, materi ini membentuk karakter Profil Pelajar Pancasila, seperti Gotong Royong dan Kebinekaan Global, serta menciptakan iklim kelas yang aman dari perundungan.
  • Q: Bagaimana cara mengatasi anak Kelas 3 SD yang sangat pemalu untuk mencari teman?
    A: Guru dan orang tua dapat membantu dengan cara membuat kelompok belajar kecil (berpasangan), melatih kata-kata sapaan sederhana di rumah, memberikan peran atau tanggung jawab kecil di kelas yang melibatkan interaksi, serta memberikan pujian atas setiap kemajuan kecil yang dicapai anak.
  • Q: Apa yang harus dilakukan guru jika terjadi pembentukan kelompok eksklusif (geng) yang mengucilkan teman lain di Kelas 3?
    A: Guru harus segera merespons dengan memutar denah tempat duduk secara berkala, merancang permainan kooperatif yang mengacak anggota kelompok, serta mengadakan diskusi kelas tentang indahnya kebersamaan dan dampak negatif dari mengucilkan teman.
  • Q: Bagaimana mengukur keberhasilan pembelajaran sosio-emosional pada tema persahabatan ini?
    A: Keberhasilan diukur melalui asesmen otentik dan observasi perilaku harian, seperti menurunnya angka konflik fisik/verbal di kelas, meningkatnya partisipasi siswa dalam kerja kelompok, serta terwujudnya kebiasaan saling menolong dan menggunakan kata-kata santun.

Lampiran: CP & ATP (Kelas 3 SD)

Nama Penyusun ATP : Dicksy Citra Kharismaya, S.Pd.
Tim Pengembang : Tim Guru Kelas Fase B SD Negeri Glagahsari I
Nama Fasilitator : Fasilitator
Fase : Fase B (Kelas 3 dan 4 SD)

Alur Tujuan Pembelajaran Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia & Pendidikan Pancasila

Capaian Pembelajaran pada akhir Fase B (Kelas 3 dan 4)

Capaian Pembelajaran Umum : Peserta didik memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar kepada teman sebaya dan orang dewasa di sekitar tentang diri dan lingkungannya melalui berbagai kegiatan berbahasa dan bersastra dengan topik yang beragam dan sesuai dengan tujuan. Secara khusus pada topik "Aku dan Temanku", peserta didik mampu mengidentifikasi identitas diri dan teman sebaya, mengungkapkan gagasan, perasaan, serta pengalaman sosialnya secara lisan dan tulis dengan santun, menghargai keberagaman latar belakang di lingkungan perkelasan, serta menunjukkan kebiasaan gotong royong dan toleransi dalam kehidupan persekolahan sehari-hari.

Capaian Pembelajaran Per Elemen & Alur Tujuan Pembelajaran Lintas Elemen

Capaian Pembelajaran Per Elemen Pengaluran ATP (12 Poin Komprehensif)

1. Menyimak: Peserta didik mampu menganalisis informasi berupa gagasan, pikiran, perasaan, arahan atau pesan yang akurat dari menyimak teks lisan, instruksi permainan, dan sapaan teman sebaya. Peserta didik mampu memahami konteks keunikan identitas diri teman yang disampaikan secara lisan dengan penuh empati dan fokus.

2. Membaca dan Memirsa: Peserta didik mampu membaca kata-kata baru dengan fasih, memahami pesan dan informasi tentang keberagaman sosial dalam teks bacaan naratif atau deskriptif, serta memirsa visualisasi identitas (seperti denah kelas, peta konsep identitas, atau gambar ekspresi emosi) secara kritis.

3. Berbicara dan Mempresentasikan: Peserta didik mampu menyampaikan gagasan, tanggapan, dan identitas diri dengan suara yang jelas, santun, dan percaya diri di hadapan teman sebaya. Peserta didik mampu menceritakan pengalaman berteman dan berdiskusi secara aktif dalam kerja kelompok.

4. Menulis: Peserta didik mampu menuliskan teks deskripsi singkat mengenai identitas diri dan teman sebaya dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang tepat. Peserta didik mampu mengungkapkan perasaan dan ucapan apresiasi kepada teman dalam bentuk surat/kartu persahabatan.

  1. Peserta didik mampu mengidentifikasi elemen identitas diri (nama, hobi, kebiasaan) secara mandiri.
  2. Peserta didik mampu menyimak paparan identitas teman sebaya dengan menunjukkan sikap santun dan fokus.
  3. Peserta didik mampu menceritakan keunikan identitas dirinya di depan kelompok kecil secara percaya diri.
  4. Peserta didik mampu membandingkan persamaan dan perbedaan minat antar teman melalui peta konsep sederhana.
  5. Peserta didik mampu menemukan informasi kosa kata baru terkait keragaman budaya dari teks bacaan "Teman Baruku".
  6. Peserta didik mampu mempraktikkan penggunaan "4 Kata Ajaib" dalam simulasi percakapan antarteman.
  7. Peserta didik mampu menganalisis aturan dan etika dalam bermain bersama di lingkungan sekolah.
  8. Peserta didik mampu mempraktikkan sikap gotong royong dan saling menolong dalam menyelesaikan tugas kelompok.
  9. Peserta didik mampu menyusun paragraf deskripsi singkat tentang profil teman sebaya dengan ejaan yang benar.
  10. Peserta didik mampu mendemonstrasikan cara menyelesaikan konflik ringan dengan teman secara damai melalui sosiodrama.
  11. Peserta didik mampu membuat "Kartu Apresiasi Persahabatan" berisi pesan positif untuk kawan sekelas.
  12. Peserta didik mampu merefleksikan pentingnya toleransi dan persahabatan dalam jurnal refleksi harian.

Lampiran: Modul Ajar (Kelas 3 SD)

Tentang Perangkat Ajar
Sekolah: SD Negeri Glagahsari I • Fase/Kelas: Fase B / Kelas 3 SD
MATA PELAJARAN: Bahasa Indonesia (Integrasi Pendidikan Pancasila & SEL)

Deskripsi: Modul ini mengajarkan peserta didik untuk mengenali identitas diri dan teman sebaya secara mendalam, memahami nilai-nilai keberagaman, serta melatih keterampilan komunikasi santun melalui aktivitas pembelajaran yang berbasis permainan, diskusi kooperatif, dan proyek kartu persahabatan. Melalui modul ini, peserta didik didorong untuk membangun sikap saling menghargai, toleransi, dan gotong royong dalam lingkungan kelas yang inklusif.

Detil penggunaan Tujuan & Alur Tujuan Pembelajaran:
1. Peserta didik mampu menjelaskan identitas diri dan menyebutkan minimal 3 keunikan teman sebayanya dengan bahasa yang santun dan jelas.
2. Peserta didik mampu mempraktikkan penggunaan kata ajaib (Tolong, Terima Kasih, Maaf, Permisi) dalam interaksi sosial harian di kelas.
3. Peserta didik mampu menuliskan paragraf deskriptif sederhana sebanyak 4-5 kalimat mengenai profil teman sebayanya menggunakan ejaan yang tepat.

Urutan Materi Pembelajaran

  1. Pengenalan Topik (Aktivitas Pembuka - 15 Menit): Guru mengajak siswa menyanyikan lagu "Bila Kita Berkumpul" atau lagu persahabatan lainnya. Dilanjutkan dengan permainan tebak suara/ciri fisik "Siapakah Temanku?" untuk memantik antusiasme dan perhatian siswa terhadap keberadaan kawan-kawannya di kelas.
  2. Eksplorasi Materi (Aktivitas Inti - 45 Menit): Siswa membaca teks narasi bertema persahabatan. Guru memfasilitasi diskusi tentang isi bacaan. Selanjutnya, siswa berpasangan untuk saling mewawancarai teman sebaya menggunakan panduan lembar kerja identitas (mencatat nama, hobi, makanan favorit, dan cita-cita).
  3. Aplikasi & Latihan (Aktivitas Praktik - 45 Menit): Berdasarkan hasil wawancara, setiap siswa menggambar wajah temannya dan menuliskan 4 kalimat deskripsi di bawah gambar tersebut. Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan "Pohon Persahabatan Kelas", di mana setiap karya ditempel pada media dinding kelas.
  4. Penutup & Refleksi (Aktivitas Evaluasi - 15 Menit): Siswa berkumpul dalam lingkaran refleksi (*circle time*). Guru memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk menyampaikan pesan apresiasi kepada temannya. Kegiatan ditutup dengan penegasan guru tentang pentingnya saling menyayangi dan menolong antarteman.

ASESMEN (1 Forms)

Bentuk Asesmen: Performa dan Unjuk Kerja (Proyek Kartu Profil Teman)
Rubrik Penilaian Unjuk Kerja:

  • Kelengkapan Informasi Identitas (Skor 1-4): Mengukur sejauh mana siswa mampu mencantumkan data identitas teman secara akurat dan rinci.
  • Keterampilan Keterbacaan dan Bahasa (Skor 1-4): Mengukur struktur kalimat deskripsi, penggunaan huruf kapital, dan tanda baca yang tepat.
  • Sikap Menghargai dan Kesantunan (Skor 1-4): Mengukur santun bahasa yang digunakan serta sikap antusias dan ramah saat melakukan wawancara dengan teman.

REFERENSI (7)

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD Kelas III. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Siswa Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD Kelas III. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  3. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD Kelas III. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
  4. Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. (Landasan Teori Pembelajaran Sosial Anak).
  5. Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL). (2020). SEL Framework: Core Competencies for Social Emotional Learning. Tersedia secara online di casel.org.
  6. Platform Merdeka Mengajar (PMM). (2023). Modul Pembelajaran Sosio-Emosional Fase B Sekolah Dasar. Jakarta: Kemendikbudristek.
  7. Santrock, J. W. (2018). Educational Psychology (6th ed.). New York: McGraw-Hill Education. (Materi Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar).

Streaming TV